Pilih Laman

Siswa SMA Terpadu Al-Qudwah melaksanakan kegiatan English Camp di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Kegiatan ini diikuti oleh 40 siswa kelas XI SMA Terpadu Al-Qudwah.

Kegiatan bertema Be Global Thinkers with English ini diadakan pada 11 Juni hingga 25 Juni 2022. 
Kepala SMA Terpadu Al-Qudwah Iwan Supriana M.Pd mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk menambah kemampuan bahasa Inggris siswa. Di sana siswa belajar vocabulary, speaking, pronunciation dan grammar.
Bayu Kuntoro, salah seorang siswa mengungkapkan serunya belajar bahasa Inggris di sana.
“Banyak yang dipelajari. Seru banget banyak dapat ilmu dan pengalaman,” katanya. 
Progam Rutin dan Andalan
Belajar di kampung Inggris Pare memang banyak manfaatnya. SMA Terpadu Al-Qudwah melaksanakan kegiatan ini rutin diadakan. 
Ya, program ini diadakan sejak pendirian sekolah. Tepatnya 2012 lalu. Maka sudah 10 tahun inilah program belajar ke kampung Inggris Pare dilakukan. Hanya saja saat pandemi kegiatan ini sempat dihentikan. 
Belajar di kampung Inggris ini menjadi salah satu program andalan. Biasanya untuk kelas XI SMA Terpadu Al-Qudwah. Ada 4 guru yang mendampingi. 
Belajar Kebinekaan dan Kearifan Lokal 
Apa yang didapat dari belajar di kampung Inggris? Tentu saja ilmu dan kemampuan bahasa Inggris siswa meningkat. Dari yang hanya pemula menjadi mahir.
Tapi bukan hanya itu. Belajar di kampung Inggris Pare banyak manfaatnya. Bahkan bermanfaat untuk hidupnya. 
Sebab di jalan menuju ke tempat belajar itu pasti banyak hal yang memberikan pelajaran. Mulai dari tepat waktu berkumpul di sekolah, mengantre tiket di stasiun, membawa dan bertanggung jawab pada barang bawaan sendiri bahkan berinteraksi dengan teman. Ya, di jalan itulah mereka bisa saling mengenal. Bahkan karakter asli seseorang biasanya muncul saat dalam perjalanan. 
Selama di sana pula mereka belajar mengatur waktu, keuangan, dan aktivitas. Mungkin makanan dan minuman di sana murah-murah. Tapi mereka harus bisa membedakan antara jajan dengan kebutuhan. Mereka juga harus mengatur waktu mengingat jadwal yang cukup padat. Bukankah itu semua merupakan pelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan belajar di dalam kelas? Benarlah kata Ki Hadjar Dewantara bahwa di manapun adalah tempat untuk belajar. “Setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru.”
Siswa juga belajar makna kebinekaan dan kearifan lokal budaya dengan mempelajari adat dan budaya masyarakat Kediri. Sebab selama di sana mereka berinteraksi pula dengan masyarakat. Ada banyak hal yang dilihat dan dipelajari. Selama di sana pula siswa menghormati kearifan lokal masyarakat setempat. 
Berwisata
Tidak melulu belajar materi bahasa Inggris, siswa juga punya waktu untuk berwisata. Setidaknya ada dua hari mereka mendapatkan kesempatan refreshing setelah berjibaku dengan belajar. Ada beberapa destinasi wisata yang mereka kunjungi. 
“Terutama tempat-tempat ikonik Kediri atau Jawa Timur,” kata Miss Irma, salah seorang pendamping. 
“Jadi mereka ada sesi tour ke Simpang Lima Gumul, ke alun-alun Batu Malang dan wisata Gunung Bromo.”